Jakarta, CNBC IndonesiaIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona hijau pada perdagangan Selasa (30/4/2024), di tengah sikap investor yang cenderung wait and see menanti keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS).

IHSG ditutup melonjak 1,1% ke posisi 7.234,197. IHSG akhirnya kembali menyentuh level psikologis 7.200 pada hari ini.

Nilai transaksi indeks pada akhir perdagangan hari ini mencapai sekitar Rp 16 triliundengan melibatkan 22miliar lembar saham yang diperdagangkan sebanyak 1,1 juta kali.

Beberapa sektor menjadi penopang IHSG di akhir perdagangan hari ini, yakni sektor transportasi yang mencapai 2,07%, energi sebesar 1,77%, bahan baku sebesar 1,27%, keuangan sebesar 1,12%, properti sebesar 1,11%, dan teknologi sebesar 1,05%.

Selain itu, beberapa saham juga terpantau menjadi penggerak atau movers IHSG. Berikut daftarnya.


Saham perbankan Himbara PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) akhirnya kembali menjadi penopang terbesar IHSG pada hari ini, yakni mencapai 20,1 indeks poin.

IHSG kembali bergairah meski investor asing masih mencatatkanoutflowatau penjualan bersih (net sell). Pada perdagangan kemarin, asing tercatat masih melakukannet sellyakni mencapai Rp 450,21 miliar di pasar reguler. Tetapi, angka ini sudah kembali berkurang.

Secara akumulasi, sepanjang tahun ini hingga kemarin, asing sudah mencatatkannet sellhingga mencapai Rp 4,21 triliun di pasar reguler.

Di lain sisi, investor masih menanti keputusan terbaru dari suku bunga acuan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang akan diumumkan pada Rabu dini hari waktu Indonesia.

The Fed akan mengumumkan kebijakan suku bunga yang berpotensi masih akan tetap tinggi. Hal ini terjadi mengingat data-data ekonomi AS masih cukup solid sehingga potensi pemangkasan suku bunga masih cukup sulit terjadi.

Salah satunya inflasi AS yang masih cukupstickybahkan cenderung mengalami kenaikan. Angka inflasi ASperiode Maret berada di angka 3,5% (year-on-year/yoy) atau lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang berada di angka 3,2% yoy.

Pasar semakin pesimis mengenai pemangkasan suku bunga di AS setelah data terbaru pengeluaran pribadi warga AS atauPersonal Consumption Expenditures (PCE)masih kencang.

AS mengumumkan laju PCE bulanan (month to month/mtm) stagnan di 0,3% tetapi secara tahunan meningkat 2,7% pada Maret 2024.
PCE inti stagnan di 2,8% (yoy) pada Maret 2024. Kondisi ini menandai masih membandelnya inflasi AS sehingga bisa menghalangi The Fed memangkas suku bunga.

Pada beberapa kesempatan sebelumnya, pejabat The Fed termasuk Chairman The Fed Jerome Powell mengindikasikan pemangkasan masih lama. Pasalnya, inflasi AS masih kencang.
Data PCE adalah pertimbangan utama The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga.

Hal ini semakin menjauhi target The Fed yakni 2%. Jika inflasi AS masih cukup sulit ditekan, maka penurunan suku bunga AS akan sulit terjadi tahun ini. Bahkan beberapa survei menunjukkan bahwa The Fed tampaknya tidak akan memangkas suku bunganya (no landing).

Berdasarkan perangkat CME FedWatch, pasar memperkirakan suku bunga acuan The Fed tetap hanya turun satu kali hingga 2024 berakhir yakni pada September 2024 ke target 5,0%-5,25% sebesar 44,4%.

Alhasil, kondisi tersebut membuat investor global cenderung memilih kabur dariemerging markets, seperti Indonesia, sehinggaoutflowasing diperkirakan akan masih terjadi di pasar keuangan RI dalam beberapa hari kedepan.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


IHSG Finish Sumringah, Berkat 6 Saham Big Cap Ini


(chd/chd)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *