Jakarta, CNBC Indonesia – Starlink, teknologi satelit orbit rendah (low earth orbit/LEO) milik SpaceX, diketahui akan melakukan uji coba di Ibu Kota Negara (IKN) dalam waktu dekat ini usai mengantongi izin penyelenggara layanan Very Small Aperture Terminal (VSAT) dan Internet Service Provider (ISP) dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Starlink dilaporkan sudah memenuhi semua persyaratan peraturan pada awal 2024, sehingga bisa beroperasi. Sejak Juni 2022 Starlink juga sudah masuk ke Indonesia lewat kerja sama dengan PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat). Anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) ini memakai Starlink sebagai penghubung jaringan utama dengan jaringan akses (backhaul).

Kehadiran Starlink bagi konsumen ritel ini mendapat perhatian dari para pemangku kepentingan (stakeholders). Menkominfo Budi Arie Setiadi mengatakan salah satu tulang punggung mencapai transformasi digital adalah konektivitas yang merata hingga ke pelosok.

Namun, akses konektivitas untuk negara kepulauan terbesar di dunia seperti Indonesia sangat menantang. Maka itu, perlu alternatif dan inovasi teknologi untuk menghubungkan semua orang ke internet, sehingga bisa mengakses lebih banyak informasi dan kesempatan. “Peningkatan pelayanan bagi masyarakat dan kepetingan nasional tetap menjadi concern utama kita,” kata Budi Arie

Manajemen emiten telko, Telkom Indonesia, menilai tidak ada kekhawatiran hadirnya Starlink. “Karena memang value-nya berbeda dibandingkan dengan seluler maupun Indihome atau fixed broadband,” kata Direktur Wholesale & International Service Telkom Bogi Witjaksono, dalam konferensi pers, Jakarta, Jumat pekan lalu (3/5/2024).

Menurut Bogi, harga layanan yang ditawarkan juga memiliki selisih yang cukup lumayan. “Bisa lihat di website [Starlink] disparitas harga cukup lumayan apabila dibandingkan fixed broadband,” katanya.

Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) Muhammad Danny Buldansyah juga tidak khawatir bersaing dengan Starlink. Pasalnya, Starlink lebih berpotensi bersaing dengan penyedia layanan internet berbasis satelit atau VSAT, sedangkan banyak produk Indosat mengandalkan internet seluler.

Namun Danny menegaskan persaingan bisa saja terjadi, tapi bukan hanya dengan Starlink. “Jangan lupa, Starlink itu saat ini, setahun lagi ada yang namanya Warn Web, Quipper, Orbit, dan lain-lain,” kata Danny kepada wartawan usai Indosat-Mastercard Cybersecurity Center of Excellence (CoE), Kamis (18/4).

Prinsipnya, tegas Danny, pemerintah harus mengawasi sehingga ada level persaingan yang sehat. “Ya kita sama-sama akan berkompetisi dalam bentuk service, harga, coverage dan lain lain. Yang penting, selama kita ada di level playing field yang sama, tidak ada keberpihakan.”

Sementara itu, Direktur PT XL Axiata Tbk (EXCL) I Gede Darmayusa, berharap hadirnya Starlink bisa menekan biaya sewa telekomunikasi yang jauh lebih murah dari sebelumnya. “Harapan kami, Starlink bisa jadi solusi menggantikan biaya-biaya satelit kemarin yang mahal,” kata Gede kepada jurnalis di acara Halalbihalal XL Axiata, Kamis (25/4).

Dua analis PT Trimegah Sekuritas Tbk, Richardson Raymond dan Sabrina, dalam riset terbarunya menilai Starlink sebetulnya tidak menimbulkan ancaman yang signifikan bagi para pemain telko di Indonesia, pun emiten menara telko.

Pasalnya Starlink sangat tepat untuk wilayah perdesaan yang belum punya konektivitas. Rendahnya konektivitas ini dipengaruhi sejumlah faktor, di antara tingginya biaya perangkat keras dibandingkan dengan fiber dan tingginya biaya layanan bulanan.

Berdasarkan situs resmi Starlink, biaya layanan di Indonesia dimulai dari Rp 750.000 per bulan dengan harga hardware atau perangkat keras Rp 7,8 juta. Menurut Richardson dan Sabrina, biaya layanan Starlink tiga kali lebih mahal dari rata-rata pendapatan per pelanggan (ARPU) bisnis fiber to the home (FTTH) sekitar Rp 250.000 per bulan.

“Sebagai gambaran, PDB per kapita per bulan Indonesia Rp 6,25 juta di 2023 dan biaya Rp 750.000 itu mewakili 12% pengeluaran rumah tangga bulanan, yang kami anggap berlebihan. Sebab itu, kami yakin potensi pasar Starlink terutama terletak pada segmen korporasi,” tulis mereka dalam riset 25 April 2024.

Selain itu, para pemain telkom besar juga cenderung akan menyasar segmen bawah yakni RT/RW Net (jaringan internet yang biasa dikelola individu atau organisasi di tingkat RT/RW) dengan menawarkan produk-produk internet tetap yang lebih terjangkau.

Richardson Raymond dan Sabrina menegaskan lagi bahwa Starlink tak menimbulkan ancaman signifikan ke penyedia konektivitas, termasuk emiten telko dan jasa pendukungnya.

“Sebaliknya, kehadiran Starlink lebih menjadi pelengkap konektivitas fiber, khususnya perdesaan, yang kurang terlayani di mana infrastruktur fiber sulit diterapkan karena medan dan belanja modal [capex] yang tinggi.”

Menurut keduanya, justru pendekatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi konsumen Indonesia di perdesaan yang membutuhkan akses internet yang andal, serta operator telko dapat memanfaatkan Starlink untuk meningkatkan kemampuan backhaul.

Investasi Mahal?

Berdasarkan catatan redaksi, sepanjang tahun lalu, Telkom menyerap belanja modal atau capex hingga Rp 33 triliun. Tahun ini, Telkom menyiapkan capex sekitar 22%-24% dari total pendapatan di tahun berjalan. Sementara Indosat mengalokasikan capex Rp 12 triliun pada 2024.

Emiten towerco, Mitratel, menghabiskan capex Rp 3,5 triliun di September 2023 termasuk untuk ekspansi fiber optic, sementara pada 2024 alokasinya Rp 5,6 triliun, sedangkan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) menyiapkan capex 2024 antara Rp 3-4 triliun.

Bandingkan dengan investasi di satelit Starlink yang digelontorkan Elon Musk, orang terkaya di nomor 3 dunia versi Bloomberg Billionaires dengan kekayaan US$ 195 miliar atau setara Rp 3.000 triliun (kurs Rp 15.500/US$).

Mengutip Financial Times, Elon mengatakan SpaceX siap menghabiskan US$ 30 miliar atau sekitar Rp 465 triliun untuk ekspansi Starlink, jaringan internet yang memiliki 70.000 pengguna di 12 negara.

SpaceX memiliki 1.500 satelit di orbit rendah yang menyediakan layanan internet broadband untuk Starlink. Dengan kapasitas penuh, layanan ini akan memiliki 12.000 satelit. “[Starlink] benar-benar ditujukan untuk wilayah yang penduduknya jarang. Kami benar-benar menjangkau wilayah-wilayah yang paling sulit dijangkau,” katanya.

Mengacu keterangan resmi, Menkominfo Budi Arie Setiadi mengatakan Starlink harus mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku guna memenuhi syarat beroperasi. “Kalau di IKN itu [Starlink] bakal melakukan uji coba dan lagi diusahakan time table-nya,” kata Budi .

Budi juga menegaskan pemerintah membuka peluang bagi perusahaan telko, baik skala nasional maupun global untuk berinvestasi dan mengembangkan ekosistem digital di Indonesia. “Kita harus bikin bisnis yang fair, level playing field-nya juga dan semua harus ikuti regulasi yang ada.”

Direktur Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kementerian Kominfo Wayan Toni Supriyanto menambahkan dalam proses perizinan operasi, Starlink telah membangun hub dan memenuhi standarisasi perangkat dari Direktorat Jenderal Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika.

“Jadi mereka ada kemungkinan sudah comply untuk VSAT. Untuk internet (ISP) dia harus bekerja sama dengan NAP (Network Access Point, penyelenggaraan jasa interkoneksi internet), mungkin belum selesai perjanjian kerja sama,” ujarnya.

Situs resmi Starlink mencatat bahwa sebagian besar layanan internet satelit saat ini berasal dari satelit geostasioner tunggal yang mengorbit planet pada jarak 35.786 km. Akibatnya, waktu perjalanan bolak-balik data antara pengguna dan satelit- juga dikenal sebagai latensi- tinggi, sehingga hampir tidak mungkin untuk mendukung streaming, game online, panggilan video, atau aktivitas kecepatan data tinggi lainnya.

Sementara itu, Starlink adalah konstelasi ribuan satelit yang mengorbit planet jauh lebih dekat ke Bumi, pada jarak sekitar 550 km, dan menjangkau seluruh dunia. Karena satelit Starlink berada di orbit rendah, latensinya jauh lebih rendah-sekitar 25 mdtk vs 600+ mdtk.

Untuk merasakan akses internet Starlink ini, pengguna harus memiliki perangkat khusus sebagai penerima sinyal. Secara rinci, harga paket yang ditawarkan kepada pengguna – setelah pengguna mengklik “order now” di antaranya harga paket internet Starlink di Indonesia Rp 750.000/bulan, biaya untuk perangkat keras Rp 7,8 juta, dan biaya pengiriman dan penanganan Rp 345.000.

Adapun layanan ini tanpa kontrak, uji coba 30 hari, estimasi waktu pengiriman 1-2 minggu. Pesanan juga hanya dapat dilakukan melalui kartu kredit atau debit Mastercard atau Visa. American Express dan penerbit kartu lainnya tidak diterima saat ini. Sayangnya, belum diungkapkan kecepatan internet download-upload layanan Starlink di Indonesia.

“Starlink tahan dingin, panas, badai es, hujan es, hujan lebat, angin kencang ekstrem, bahkan di lingkungan bermesin roket,” klaim Starlink dalam situsnya.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Berebut ChatGPT, Elon Musk Gugat Sam Altman


(mkh/mkh)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *