Jakarta, CNBC Indonesia –¬†Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup cerah pada perdagangan Jumat (17/5/2024), di mana IHSG sudah melesat selama tiga hari beruntun.

IHSG ditutup melesat 0,97% ke posisi 7.317,7. Sepanjang perdagangan hari ini, pergerakan IHSG cukup sumringah karena sempat melesat lebih dari 1%.

IHSG juga akhirnya berhasil kembali menyentuh level psikologis 7.300, di mana terakhir indeks bursa saham acuan Tanah Air tersebut menyentuh level psikologis ini pada akhir Maret lalu.

Nilai transaksi indeks pada akhir perdagangan hari ini mencapai sekitar Rp 13 triliundengan melibatkan 21miliar lembar saham yang diperdagangkan sebanyak 1,2 juta kali.

Beberapa sektor menjadi penopang IHSG di perdagangan akhir pekan ini, yakni sektor bahan baku yang mencapai 1,66% dan sektor keuangan sebesar 1,34%.

Selain itu, beberapa saham juga terpantau menjadi penggerak atau movers IHSG. Berikut daftarnya.


Saham perbankan Himbara PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi penopang terbesar IHSG di akhir perdagangan hari ini, yakni mencapai 20,7 indeks poin.

IHSG tercatat sudah melesat selama tiga hari beruntun. Positifnya IHSG pada hari ini terjadi di tengah melandainya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) kemarin. Yield Treasury acuan tenor 10 tahun melemah ke 4,36%, dari sebelumnya yang ada di kisaran 4,5%.

Melemahnyayield Treasury terjadi setelah inflasi AS melandai pada April 2024. Melandainyainflasi ini memberi optimisme pasar jika bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan segera memangkas suku bunga.

Biro Statistik Tenaga Kerja melaporkan bahwa Indeks Harga Konsumen (consumer price index/CPI) naik 3,4%(year-on-year/yoy) untuk April, di bawah ekspektasi analis dan menunjukkan tren jelas menuju perlambatan inflasi lebih lanjut.

Investor cenderung menyukai perlambatan karena ini berarti harga masih naik, tetapi pada tingkat yang lebih berkelanjutan. Hal ini juga berdampak pada suku bunga, termasuk biaya pinjaman uang untuk segala sesuatu mulai dari kartu kredit hingga pinjaman mobil dan untuk suku bunga hipotek.

The Fed terus menargetkan tingkat inflasi sebesar 2%. Jika The Fed percaya pertumbuhan harga melambat menuju angka tersebut, mereka mungkin mempertimbangkan untuk menurunkan suku bunga utamanya dari level hampir 5,5% yang telah bertahan selama sekitar satu tahun.

Jika suku bunga turun, ini akan membantu menurunkan pembayaran bulanan yang dihadapi oleh bisnis dan konsumen di seluruh ekonomi.

Jika The Fed menurunkan suku bunga karena inflasi yang melambat, hal ini dapat memberikan ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menyesuaikan kebijakan moneternya, mungkin dengan menurunkan suku bunga juga.

Suku bunga yang lebih rendah dapat meningkatkan daya beli dan investasi domestik, mendorong kenaikan IHSG.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


IHSG Parkir di 7.200-an, 7 Saham Ini Jadi Penopang


(chd/chd)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *